Pasangan suami istri Herdi Edison harus melewati banyak tantangan dalam perjalanan mereka menuju kesuksesan. Sebelum bergabung di CDSI Herdi pernah bekerja di BRI Padang, tapi karena dia sering sakit dan keluar masuk rumah sakit, dokter anjurkan untuk cuti dulu.  Pada saat Herdi sudah sembuh dan masih dalam keadaan cuti, ia pun bosan karena terus menerus berada di kos-kosan. Dan, mulailah ia mencari kesibukan lain.Ketika dia melihat iklan di koran tentang CDSI, Herdi sangat tertarik dengan peluang yang ditawarkan CDSI, Herdi pun ikut masukkan lamaran dan mengikuti proses. Baru 3 bulan bergabung Herdi sudah bisa menjadi top leader dan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanya di BRI. Tak berbeda jauh degan Herdi, Edison dulu bekerja di pabrik selama 5 tahun di pulau Batam.  Karena jenuh dengan suasana pabrik, Herdi mencoba untuk menawarkan berbisnis bersama di CDSI. Alasan mereka adalah mereka ingin berjuang demi masa depan yang lebih baik untuk keluarga.

Banyak sekali naik turun dalam bisnis ini, seperti ketika crew mereka rontok dan hanya tersisa 1 orang, Herdi hampir  putus

asa dan mau meninggallkan semua ini. 

Tetapi setelah dia pikir lagi, dia merasa jika dia mencoba lagi pasti bisa.Perjuangannya pun akhirnya membuahkan hasil, setelah menjadi assistant manager dan 2 minggu kemudian menjadi manager, Herdi ekspansi ke Pekan Baru. Di sana pun crew Herdi hilang dan hanya tersisa 2 orang.  Rasanya dunia ini mau runtuh, Herdi sangat terpukul dan ingin rasanya keluar tapi dengan keyakinan, Herdi kembali turun ke lapangan fokus untuk bulding crew.

 

Selama di lapangan, banyak sekali makian dan hinaan yang mereka dapat setiap harinya. Bahkan saat masih proses mereka tidak pernah bisa pulang ke kampung halamannya. Tentu respon keluarga di saat mereka masih bekerja di lapangan tidaklah bagus, bahkan bisa dikatakan super negatif. Kata-kata seperti bodoh sering dilontarkan ke arah mereka. Kakak Herdi pun pernah mencoba untuk menjemput paksa Herdi dari CDSI namun Herdi tetap yakin pada pilihannya. Sampai-sampai Herdi tidak dianggap lagi sebagai adik dan bagian dari keluarga. Herdi pun diusir dari rumah kerena dianggap anak yang durhaka. Semua itu bisa Herdi lewati dengan sikap optimis dan kerja keras. Berkat kerja keras dan fokus pada tujuan, dalam waktu sebulan crew bisa menjadi 20 orang.

Herdi Edison percaya bahwa setiap usaha yang kita lakukan pasti akan berhasil jika kita yakin dan mau untuk bertindak. Tidak ada hal yang tidak mungkin jika kita mau dan terus mencoba.  Hasil dari bisnis ini, mereka dapat membeli mobil, bangun rumah di Pematang Siantar,  rumah kontrakan di dekat rumah, lahan sawit, lahan kebun ditanami berbagai macam buah-buahan.